21 Juni 2026 - 22:28
Musuh-musuh Imam Husain as Saat Ini Harus Takut pada Nasib Rezim Saddam / Nota Kesepahaman Iran–AS Menunjukkan Iran Menang dan Kuat

Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Shadruddin Qabanchi, Imam Jumat Najaf Asyraf, merujuk pada nota kesepahaman terbaru antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa terdapat konsensus global bahwa Iran adalah pihak yang menang dan kuat, serta seluruh upaya untuk menggulingkan Republik Islam Iran telah gagal. Ia juga menyatakan bahwa musuh-musuh Imam Husain (AS) harus mengambil pelajaran dari nasib rezim Saddam yang telah tumbang. Menurutnya, kebijakan pelarangan syiar-syiar Husaini di sebagian negara Teluk saat ini memiliki kemiripan dengan kebijakan rezim Ba'ath Irak dahulu.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Shadruddin Qabanchi dalam khutbah salat Jumat yang disampaikan di Husainiyah A'zham Fatimiyah Najaf Asyraf mengatakan mengenai nota kesepahaman terbaru antara Iran dan Amerika Serikat:

"Terdapat sebuah konsensus global bahwa nota kesepahaman ini membuktikan Iran telah menang dan kuat, serta seluruh upaya untuk menjatuhkan Iran telah gagal."

Ia menambahkan: "Presiden Amerika Serikat sendiri mengakui bahwa mereka gagal menggulingkan sistem pemerintahan Iran. Faktanya, puluhan upaya telah dilakukan untuk menjatuhkan sistem ini dan semuanya gagal. Hal itu terjadi karena kesadaran rakyat, kepemimpinan yang kuat, serta nilai-nilai Husaini yang memenuhi hati dan pikiran mereka."

Luka yang Belum Sembuh Hingga Munculnya Imam Mahdi (AF)

Imam Jumat Najaf melanjutkan: "Luka ini masih terus berdarah dan tidak ada yang dapat menyembuhkannya selain lenyapnya rezim-rezim perampas hak. Kami akan tetap bertahan hingga kemunculan Imam Zaman (AF):"

"Di manakah penuntut darah para nabi dan putra-putra para nabi?
Di manakah penuntut darah orang yang terbunuh di Karbala?"

Hubungan Iran dan Irak Berdasarkan Agama dan Kemanusiaan

Dalam pembahasan masalah domestik, Qabanchi menyatakan bahwa penyambutan keluarga para pelajar syahid dalam tragedi sekolah Minab di Iran oleh Makam Suci Imam Ali (AS) menunjukkan eratnya hubungan antara bangsa Irak dan Iran.

Ia berkata: "Tempat-tempat suci di Irak berada di garis depan dalam menunjukkan ikatan ini, karena persoalannya bukan persoalan geografis, etnis, ataupun kepentingan ekonomi, melainkan persoalan agama, mazhab, dan kemanusiaan."

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Makam Suci Alawi dan seluruh tempat suci di Irak atas peran tersebut.

Dukungan kepada Lebanon dan Hizbullah

Dalam pembahasan isu internasional, Imam Jumat Najaf menyinggung berlanjutnya agresi terhadap Lebanon dan mengatakan:

"Serangan-serangan yang terus berlanjut terhadap rakyat kami di Lebanon hingga saat ini merupakan pelanggaran terhadap seluruh perjanjian dan seluruh prinsip hak asasi manusia."

Ia menegaskan solidaritasnya dengan kaum Syiah Lebanon, Hizbullah, dan seluruh rakyat Lebanon serta menyerukan kepada dunia untuk menghentikan pembantaian tersebut.

Masuknya Imam Husain (AS) ke Karbala Adalah Bagian dari Rencana Ilahi

Dalam khutbah keagamaannya, setelah mengajak jamaah untuk bertakwa, ia mengingatkan bahwa pada tanggal 2 Muharam Imam Husain (AS) memasuki Karbala dan bersabda: "Di sinilah tempat unta-unta kami berhenti.
Di sinilah kafilah kami menetap.
Di sinilah darah kami akan ditumpahkan.
Di sinilah kehormatan keluarga kami akan dilanggar."

Beliau menambahkan bahwa sabda ini disampaikan berdasarkan berita yang diterima dari Rasulullah (SAW), yang menunjukkan bahwa kebangkitan Imam Husain (AS) merupakan bagian dari perencanaan Ilahi.

Ia melanjutkan: "Kita berhadapan dengan kehendak dan rencana Ilahi dalam kebangkitan Husaini. Sebagaimana tertulis di sisi Arasy:"

"Husain adalah pelita petunjuk dan bahtera keselamatan."

"Dan setiap kali mereka berusaha memadamkan cahaya ini, yang terjadi justru cahaya itu semakin bersinar dan semakin tinggi."

Mengapa Mereka Memerangi Imam Husain (AS)?

Qabanchi kemudian mengajukan pertanyaan: "Mengapa mereka memerangi Imam Husain (AS)? Mengapa mereka takut kepada syiar-syiar Husaini?"

Menurutnya, saat ini sebagian negara Teluk melarang syiar-syiar Husaini dan menerapkan kebijakan yang sama seperti rezim Ba'ath Saddam Hussein dahulu.

Sebagian Instruksi Rezim Saddam untuk Menekan Syiar Muharam

Ia kemudian membacakan sebagian isi surat resmi rezim Saddam tertanggal 25 Maret 2001 mengenai "Instruksi Bulan Muharam":

  1. Pawai jalan kaki (masyayah) dilarang secara mutlak dan harus ditindak dengan tegas.

  2. Ritual pukul dada (latmiyah) di jalanan maupun di rumah-rumah dilarang secara mutlak.

  3. Para pembaca syair dan madah yang memiliki izin tidak diperbolehkan melantunkan syair di jalan atau melalui pengeras suara; hanya diperbolehkan di dalam masjid.

  4. Pemeriksaan kaset-kaset rekaman dan pelarangan penyebarannya di toko-toko.

  5. Memasak makanan harus dilakukan di dalam rumah, bukan di jalanan; siapa pun yang melanggar akan diadili.

Imam Husain (AS) Tetap Abadi, Musuh-Musuhnya Binasa

Qabanchi menegaskan: "Namun Imam Husain (AS) tetap hidup dan musuh-musuh Imam Husain telah lenyap. Karena itu, musuh-musuh Imam Husain pada hari ini harus takut bahwa nasib mereka akan sama seperti nasib rezim Saddam yang telah tumbang."

Di akhir khutbahnya, ia menyampaikan penghargaan kepada rakyat Irak dan seluruh pecinta Ahlulbait (AS) yang terus menghidupkan duka Karbala.

Ia berkata: "Kami berterima kasih kepada para pengelola mawkib Husaini, para penyair, pelantun madah, khatib, serta seluruh pelayan syiar Husaini. Di atas semuanya, kami berterima kasih kepada para ulama agama dan Marja'iyah Agung yang melalui bimbingan dan arahan mereka menjadi penuntun dalam menghidupkan peringatan agung ini."

Your Comment

You are replying to: .
captcha